oleh

MUI OI Haramkan Jasa Perdukunan Dalam Pilkada

 

INDRALAYA I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ogan Ilir mengharamkan bagi pasangan calon maupun tim paslon yang sengaja menggunakan jasa perdukunan guna memenangkan paslon dalam pilkada Kabupaten Ogan Ilir. Sebab perdukungan sangat dilarang keras dalam ajaran Islam.

“Kami tidak menapik kalau dalam pilkada, baik itu tingkat bawah, bupati hingga presiden ada sebagian tim paslon yang memanfaatkan jasa dukun untuk membantu kemenangan paslon. Padahal perdukunan itu dilarang keras karena sangat bertentangan dengan ajaran agama dan merusak moral bangsa. Apalagi perdukunan itu demi untuk memuluskan kemenangan dalam pilkada nanti,” kata Ketua MUI Ogan Ilir, KH Dany Ahmad, kemarin.

Menruut dia, cara-cara yang dilakukan dukun bertujuan untuk menjatuhkan lawan dalam pilkada dan langkah itu jelas sangat merusak pesta demokrasi. Bahkan cara-cara seperti itu sudah lama dilarang dalam Al-Quran dan hadist.

Jasa dukun, kata dia, sebagian kecil masyarakat memercayainya. Kendati tidak ingin mendahului Allah, namun jasa dukun kerap dimanfaatkan oknum tertentu untuk memuluskan suatu rencana atau tujuan yang diinginkan.

“Kenapa juga harus menggunakan dukun. Sebaiknya kepala daerah yang maju itu menunjukkan kelebihan yang dimiliki untuk membangun Ogan Ilir,” ujarnya.

Dia melanjutkan, calon bupati dan calon wakil bupati yang akan bertarung pada 9 Desember mendatang harusnya mendekati dan mendengarkan aspirasi rakyat. Sebab, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengarkan rakyatnya. Apalagi pesta demokrasi ini merupakan hajatan rakyat karena dipilih langsung oleh rakyat.

“Dalam pilkada ini kan yang memilih adalah rakyat, maka dekatilah mereka dengan cara-cara yang santun, simpatik dan baik dengan harapan memperoleh dukungan penuh dari rakyat,” terangnya.

Daripada menggunakan jasa perdukunan, lanjut dia, baiknya yang maju dalam pilkada itu beradu dan menunjukkan program yang kental dengan pro rakyat.

Fatwa mengenai pemanfaatan perdukunan sebenarnya sudah ada, tapi tidak spesifik disebutkan dalam pilkada.

“Menggunakan cara perdukunan, sihir, tebak-tebakan, dan menjadikannya judi itu tegas sekali diharamkan dalam agama Islam. Para calon bupati dan wakil bupati harusnya menunjukkan visi misi maupun program. Jangan sampai menggunakan jasa dukun karena itu dosa besar,” tegasnya.

Sementara itu, tokoh pemuda Ogan Ilir Yan menilai dalam sebuah kompetisi baik itu pemilihan kepala desa, hingga pemilihan bupati tidak lepas dari jasa perdukunan. Tinggal masyarakat sendiri yang menyikapinya seperti apa.

“Jasa perdukunan sudah menjadi rahasia umum dalam sebuah kompetisi pileg, pilkada dan lainnya. Namun pemanfaatan perdukunan hanya dilakukan orang-orang yang tidak emmiliki rasa percaya diri tinggi,”katanya. (Sultan)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *