oleh

2016, Indonesia Berperan Lebih dalam Global Health Security Agenda

JAKARTA I Kemunculan wabah virus mematikan seperti Ebola mendorong sejumlah negara untuk aktif melakukan kolaborasi dalam mengatasinya. Upaya ini terangkum dalam forum bertajuk Global Health Security Agenda (GHSA).

Saat membuka pertemuan steering group Global Health Security Agenda, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menjelaskan, forum ini diprakarsai oleh Amerika Serikat di tahun 2014.

Diakui Nila, forum ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas WHO sebagai badan kesehatan dunia, utamanya dalam mengatasi endemik dan pandemik yang terjadi secara regional maupun global.

“Memang WHO sudah memiliki international health regulation sejak 2005, tetapi pada waktu ebola ini kelihatan sekali, kita merasa perlu bersama-sama untuk mengatasi suatu endemik atau pandemik yang terjadi di dunia,” katanya kepada wartawan di Hyatt Regency, Yogyakarta (3/12/2015).

Nila menambahkan, peranan Indonesia akan semakin kentara pada tahun 2016. Setelah sebelumnya hanya menjadi salah satu dari 10 negara steering group, tahun depan Indonesia akan mendapat giliran untuk memimpin forum tersebut.

Sikap dan rencana Indonesia ke depan dalam memimpin GHSA akan dipaparkan dalam pertemuan steering group tersebut, terutama dalam mengimplementasikan 11 paket aksi yang tersusun saat GHSA dipimpin oleh Amerika Serikat.

“Di forum ini kita berencana memperluas networking, memperluas sosialisasi ke negara lain, terutama di ASEAN. Karena endemik pandemik ini bukan hanya terjadi di satu negara,” tegasnya.

Lantas adakah alasan khusus memilih Indonesia sebagai pemimpin forum GHSA di tahun 2016? “Tidak ada. Justru pada waktu Ibu Nafsiah (red, Menteri Kesehatan sebelumnya) memimpin, ketika ini dilontarkan, Indonesia langsung mengajukan diri. Jadi waktu ditunjuk kita tinggal menerima saja,” papar Nila.

Lagipula Indonesia akan diuntungkan dengan posisi ini, utamanya dalam memperjuangkan kepentingan Indonesia. “Menurut saya kita bisa mengatur di dalamnya, kita punya kapasitas itu. Kalau hanya anggota tentu hanya bisa menerima, lbh baik kita ikut berperan,” ujarnya.

Nila menambahkan, ke depannya GHSA sedang mengantisipasi zoonosis atau penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus dari binatang seperti MERS yang berasal dari virus corona. “Di Indonesia sendiri ada flu burung, SARS, demam berdarah, nanti kita bagi apa yang kita dapat di nasional dalam forum ini,” tutupnya.

Dalam sambutannya, perwakilan dari Finlandia, Paivi Sillanaukee meyakini Indonesia mampu memegang amanah dalam memimpin forum ini, meskipun tak ada yang bisa memprediksi kapan epidemi akan muncul kembali.

“Tapi lewat forum ini kami ingin menunjukkan dukungan dan memaparkan pengalaman-pengalaman yang kami dapat kepada Indonesia,” katanya.

Agenda lain yang akan digelar dalam pertemuan selama dua hari di Yogyakarta ini adalah handover atau pengalihtugasan dari Finlandia ke Indonesia.

GHSA sendiri resmi terbentuk pada bulan Februari 2014. Di antara 40 anggota, 10 di antaranya merupakan steering commitee yang terdiri atas Kanada, Chili, India, Indonesia, Italia, Kenya, Arab Saudi, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. (dtc)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *