oleh

Pelanggan Bakso Oma Berbondong-bondong Lapor Polisi

Lek Din mendatangi Polres Empat Lawang melaporkan pencemaraan nama baik usaha Baksonya. Foto : Ridichen.
Lek Din mendatangi Polres Empat Lawang melaporkan pencemaraan nama baik usaha Baksonya. Foto : Ridichen.

EMPAT LAWANG I Belasan warga dan pelanggan setia bakso oma,berbondong-bondong datang ke Polres Empat Lawang guna mendampingi Lek Din atau Udin pemilik bakso OMA melapor ke Polres Empat Lawang, Selasa (24/11/2015), sekitar pukul 13.00 WIB.

Laporan dengan nomor LP/B/308/XI/2015/SumSel/Res Empat Lawang, tanggal 24 November 2015, atas dugaan pencemaran nama baik, terkait fitnah dan penyebaran informasi tidak benar bahwa “bakso oma terbukti dicampur daging celeng” di salah satu media massa.

Lek Din mengaku, sangat terpukul dengan adanya pemberitaan di salah satu media, menyebut bakso dagangannya dicampur daging celeng (babi). Karena merasa nama baik dan usaha dicemarkan, ia pun melaporkan ke pihak berwajib agar dapat diberikan keadilan.

“Kami ini orang bodoh pak, tapi kalau dizolimi seperti ini kami sakit sekali. Cuma jual bakso inilah usaha untuk menghidupi keluarga,” ungkap Lek Din dengan nada menahan kesal.

Terkait laporan, Lek Din mengungkapkan, pihaknya akan menuntut salah satu media cetak (koran) yang menerbitkan berita fitnah terhadapnya, Jum’at (13/11/2015). Termasuk Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Empat Lawang, yang memberi statement di dalam berita tersebut.

Disisi lain, Lek Din berharap warga dan pelanggan setianya tidak terpancing emosi. Ia percaya proses hukum bisa menyelesaikan masalahnya, selanjutnya pemulihan nama baik agar usahanya bisa kembali berjalan. “Saya akan tetap jualan bakso, mudah-mudahan pelanggan saya tetap setia. Dibalik cobaan ini, semoga saja ada hikmah positif bagi kami,” imbuhnya.

Kapolres Empat Lawang, AKBP Rantau Isnur Eka menegaskan, pihaknya akan menindaklanjuti terkait laporan pencemaran nama baik yang disampaikan korban (Lek Din). Karena, imbasnya memang menyangkut usaha seseorang.

Rantau menyayangkan, adanya pemberitaan di koran tersebut, yang membuat masyarakat resah. Apalagi, terkait bakso celeng, memang belum ada laporan dari masyarakat, apalagi bukti dan hasil laboratorium. Sebagai negara hukum, harusnya berlandaskan hukum misalnya hasil lab, pemeriksaan. Dan kalau itu belum ada, berarti berita di koran itu tidak benar.

“Terkait ini bisa dikenakan UU pencemaran nama baik, KUHP pasal 310 dengan ancaman 9 bulan penjara,”tegas Rantau seraya mengimbau, agar tidak resah. Karena, informasi terkait bakso celeng tersebut belum ada kebenarannya. (Ridichen)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *