oleh

Tuduhan Suap dan Keterangan Palsu Terhadap HBA Terpatahkan

Empat LAwang I Dugaan suap terhadap hakim Mahkamah Konstitusi (MK), serta pemberian keterangan palsu pada persidangan yang disangkakan kepada bupati non aktif, H Budi Antoni (HBA) dan Istri berpeluang terpatahkan.

Sebab, berdasarkan fakta persidangan, keterangan sejumlah saksi seperti mantan ketua MK, Akil Mochtar dan saksi Muhtar Ependy telah membantah tegas, adanya unsur suap dalam penanganan sengketa pilkada Empat Lawang di MK 2013 lalu. Begitu juga keterangan saksi lainnya yang dihadirkan pihak KPK, dinilai debatabel (tidak jelas, red).

“Pasal 6 terkait dugaan penyuapan terhadap ketua MK jadi debatable, begitu juga pasal 35 yang disangkakan. Kita harap semua tuduhan itu terpatahkan,” jelas kuasa hukum HBA, Sirra Prayuna, usai sidang dengan agenda keterangan saksi dari KPK, di pengadilan negeri Jakarta Pusat, Kamis (19/11/2015) lalu.

Sirra mengulas, penzoliman terhadap pasangan HBA-Syahril, terkait hasil perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilkada Empat Lawang 2013, telah diselesaikan melalui perhitungan ulang surat suara di MK. Gambaran pada fakta persidangan dan keterangan para saksi secara jelas, kalaupun uang itu masuk ke Muhtar Ependy, pasal 6 terkait penyuapan Akil jadi debatable. Akil membantah keras menerima uang dari Empat Lawang, dan Muhtar Efendy pun membantah memberikan uang dari Empat Lawang ke Akil Muhtar untuk mempengaruhi hakim yang menangani perkara sengketa Pilkada di MK.

Selain itu, dalam kasus ini, ada banyak perkara lain, artinya saksi tidak memberi gambaran jelas kedatangan Muhtar ke rumah Akil dalam rangka apa, apakah membawa sesuatu berupa barang ke kediaman Akil Muhtar di Widya Candra, untuk memberikan sesuatu kepada hakim dalam konteks penyelesaian perkara.

“Berdasarkan keterangan saksi pada beberapa kali persidangan, tentu harapan saya, pasal 6 terkait kasus dugaan suap ini dapat terpatahkan,” imbuh Sirra.

Mengenai pasal 35 terkait keterangan palsu di persidangan, kata Sirra, itupun sudah terpatahkan. Keterangan saksi Muhtar Ependy sudah mengakui secara tegas, Muhtar yang mengarahkan agar HBA dan Istri tidak mengakui ataupun kenal dengan dirinya. Dengan alasan, kasus menjerat Akil tidak ada sangkut pautnya dengan Empat Lawang.

Keterangan disampaikan Muhtar melalui pertemuan dengan HBA dan Istri, serta melalui suruhannya. Kata Sirra, dalam keadaan galau, sangat wajar jika HBA dan Istri mengikuti arahan tersebut.

Apakah BAP menjadi rujukan fakta persidangan? Sirra menegaskan, seyogyanya rujukannya adalah keterangan saksi dibawah sumpah dan sesuai fakta persidangan. Keterangan saksi dari BAP pihak KPK, diduga banyak copy paste dengan kasus suap Kota Palembang.

Kalau BAP itu sah-sah saja, tapi yang jelas rujukannya adalah fakta persidangan, makanya saksi harus dipanggil. Seperti saksi Miko, telah banyak memberikan keterangan sebelumnya kok sudah lima kali panggilan persidangan tapi tidak bisa dihadirkan pihak KPK.

Diketahui sebelumnya, H Budi Antoni (HBA) dan istri disangkakan atas perbuatan keterangan palsu, dijerat Pasal 22 jo pasal 35 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimaan diubah Undang-undang Nomor 20 tahun 2001. Sedangkan dugaan perbuatan suap HBA dan istrinya disangkakan ke Pasal 6 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana dibuah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana.

Informasi dihimpun menyebutkan, penanganan kasus dugaan suap HBA terkesan dipaksakan, meskipun keterangan saksi Akil Mochtar dan Muhtar Efendi, secara jelas membantah tuduhan tersebut. Disisi lain, beberapa keterangan saksi dari BAP pihak KPK, disinyalir hampir sama dengan keterangan saksi pada kasus suap sengketa pilkada Kota Palembang. Yang berbeda hanya nama dan tanggalnya saja. Bahkan, ada saksi yang menyebutkan jumlah uangnya, sama persis dengan jumlah uang pada kasus kota Palembang.

Keterangan saksi yang menyatakan Muhtar membawa sejumlah uang ke rumah Akil Mochtar, juga dibantah oleh mantan scurity Akil Mochtar yang memberikan kesaksian di persidangan pada Kamis (19/11) lalu. Ia membenarkan adanyan kedatangan Muhtar ke rumah Akil, namun tidak membawa barang berupa kardus atau bentuk barang lainnya, yang disampaikan oleh saksi lainnya.

Hal lain berkembang, kasus menjerat HBA dan Istri tersebut diduga didalangi oknum tertentu juga terkuak pada fakta persidangan yaitu keterangan saksi Niki dan Nugroho. Kedua saksi tersebut membenarkan, mereka diajak Miko menemui beberapa oknum didalam salah satu RM di Jakarta. Diduga dalam pertemuan itulah, beberapa bait karangan cerita (skenario) sengaja dibuat, agar mengarahkan HBA sebagai tersangka suap mantan ketua MK, Akil Mochtar. Bahkan, skenario dibuat sebelum kasus dugaan suap melibatkan HBA ini ditangani KPK.

Namun ironisnya, sampai saat ini saksi Miko belum juga dihadirkan ke persidangan. Padahal, saksi Miko telah menyampaikan banyak cerita  terkait dugaan penyuapan yang disangkakan, bahkan sebelum kasus ini masuk ke ranah KPK. (Ridichen)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *