oleh

‘Mencetak’ Anak Multitalenta, Bagaimana Caranya?

Foto: thinkstock
Foto: thinkstock

JAKARTA | Ini bisa, itu bisa, semua bisa. Begitulah anak multitalenta, bisa melakukan berbagai hal. Dengan kemampuannya, anak multitalenta diharapkan bisa menaklukan berbagai tantangan yang dihadapi.Bagaimana cara ‘mencetak’ anak multitalenta?

Dijelaskan psikolog anak, Dr Rose Mini A.P., M.Psi, multitalenta tercipta karena kecerdasan anak yang distimulasi dengan baik. Sebab setiap anak di muka bumi ini cerdas dengan keunikan dan kemampuannya masing-masing.

Talenta seorang anak, bisa didapat secara alamiah alias pemberian dari Tuhan. Seain itu ada faktor nurture atau lingkungan yang mempengaruhi talenta anal.

“Ini seperti nutrisi dan stimulasi,” jelas perempuan yang akrab disapa Bunda Romi ini saat peluncuran MoriCare+ Prodiges Multiple Intelligence Play Plan, bertempat di KalCare, Lotte Shopping Avenue lantai 3, Kuningan, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Jumat (20/11/2015).

Artinya orang tua perlu memberi nutrisi yang baik agar anak bisa mengembangkan talenta yang dimilikinya. Selain itu stimulasi perlu dilakukan berdasarkan bakat yang dimiliki anak. Pengenalan dasar-dasar keterampilan juga perlu dilakukan untuk memperkaya kemampuan anak.

Yang terpenting adalah bagaimana anak menyukai tentang satu hal, sehingga anak akan terus belajar mendalami hal tersebut. Stimulasi yang diberikan orang tua hanya akan merangsang kecenderungan otak maupun bakatnya, tapi tidak serta-merta membentuk bakat dan minat itu sendiri.

Sebelumnya pakar stimulasi anak, Irene F Mongkar menjelaskan bahwa stimulasi pada anak terdiri atas dua jenis, yaitu stimulasi sensorik dan motorik. Stimulasi sensorik merupakan rangsangan yang melibatkan 5 indera pada anak yaitu penciuman, pendengaran, penglihatan, peraba, dan pengecap. Sedangkan stimulasi motorik berupa pemberian kesempatan pada anak untuk menggunakan tangannya, kesempatan anak untuk bergerak, dan kesempatan untuk berbicara.

Untuk menumbuhkan aneka talenta, orang tua pun perlu menerapkan pola pengasuhan yang sesuai. Setiap anak berbeda sifat dan karakternya, sehingga agar bisa ‘membentuk’ anak perlu pola pengasuhan yang tepat, tidak bisa disamakan.

“Orang tua harus tahu bagaimana gaya belajar anak, pola asuh orang tua dalam membesarkan anak harus benar dan juga kecerdasan emosi anak harus dilatih oleh orang tua,” jelas Bunda Romi yang juga dosen psikologi pendidikan di Universitas Indonesia ini. (robi/detik)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *