oleh

Asap Berlalu, Puting Beliung Mengahantam

SUMATERA SELATAN I Setelah sempat sangat bahagia dengan datangnya hujan sebagai penawar bencana kabut asap  yang dalam beberapa bulan terakhir membuat warga Sumatera Selatan sangat menderita. Kini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) justru mengingatkan bahwa hujan yang datang terus menerus juga akan membawa bencana baru yakni, Banjir, tanah longsor dan bahkan puting beliung.

1“Sebagian Sumatera dan Kalimantan telah masuk musim penghujan. Bergantinya musim maka berganti pula jenis bencananya. Jika sebelumnya didera kekeringan dan bencana asap akibat karhutla, maka akan berganti dengan banjir, longsor, dan puting beliung,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dikutip dari bijaks.net Selasa (17/11/2015).

Dia pun mengingatkan pemerintah untuk segera mengantisipasi menghadapi banjir dan longsor. Menurutnya ada 64 juta jiwa masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan sedang-tinggi dari banjir. Seluruhnya tersebar di 315 kabupaten/kota. Sedangkan longsor, ada 41 juta jiwa masyarakat yang tinggal di daerah rawan sedang-tinggi longsor di 274 kabupaten/kota.

Di Sumsel dalam satu pekan terakhir setidaknya telah terjadi tiga kali hantaman puting beliung di Kabupaten Ogan Ilir (OI) yang terjadi pada Sabtu, (14/11/2015) sekitar pukul 14.30 WIB sedikitnya, 11 rumah warga Desa Sejangko 2, Kecamatan Rantau Panjang roboh dihantam angin puting beliung. Selain belasan roboh dan rata dengan tanah, ada sekitar 50 rumah warga rusak ringan. Namun insiden tersebut, tidak menelan korban jiwa, karena kejadian pada siang hari.

Hal serupa juga terjadi di Kabupaten PALI Hujan Deras disertai angin kencang menyapu desa Tempirai, dan sekitarnya pada senin (16/11/2015)  berlangsung selama tiga puluh menit. Meski‎ hanya setengah jam, angin puting beliung yang bertiup sangat kencang mampu menumbangkan pohon kapuk yang berusia puluhan tahun.

Menurut Darwis Novirno (28) warga Dusun 3 Desa Tempirai Induk Keca‎matan Penukal Utara mengutarakan, terjangan angin kencang itu membuat warga yang saat itu sedang mandi di sumur umum ketakutan dan berlarian menuju rumah.

“Suara anginnya membuat ngeri.‎ Taklama setelah itu, tiba-tiba ada suara berdebum kuat sekali. Setelah diintip ternyata pohon kapuk tumbang sampai keakarnya,” terang Darwis.

Selain‎ menumbangkan pohon kapuk berusia puluhan tahun itu, tiupan angin kencang juga merusak ratusan rumah warga Tempirai. Ratusan rumah di desa Tempirai Barat, Tempirai Timur dan Tempirai Induk rusak ringan dan sedang.

Sementara itu di Kota Prabumulih tiga bangunan permanen yang dijadikan kantin di sekitar gedung Pemerintah kota Prabumulih tepatnya di Desa Pangkul Kecamatan Cambai, rusak parah akibat hujan deras disertai angin puting beliung yang terjadi pada Senin (16/11/2015) sekitar pukul 15.00 WIB.

Tidak hanya atap, etalase bangunan, meja serta kursi mengalami kerusakan akibat terjangan angin.

Beruntung akibat kejadian itu, para pedagang dan pegawai kantin berhasil selamat dengan berlari meninggalkan kantin. Tiga kantin diketahui milik Asmawati (54), Husien dan mie pangsit Aheng. (Indra/Sultan)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *