oleh

Sedekah Laut Roban, Ritual Mensyukuri Kelestarian Bahari

Nelayan Batang membawa sesaji untuk dilepaskan di laut. Ini ungkapan terima kasih atas kekayaan dari yang Kuasa. Foto: Mongabay.co.id
Nelayan Batang membawa sesaji untuk dilepaskan di laut. Ini ungkapan terima kasih atas kekayaan dari yang Kuasa. Foto: Mongabay.co.id

JAKARTA I “Tolak PLTU, Pilih Laut Lestari”. Begitu spanduk-spanduk kecil dari kain warna kuning terpasang di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Dusun Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah. Minggu siang (8/10/15), TPI dipenuhi warga dari berbagai desa. Ada dari Roban Barat, Ponowareng, Wonokerso, Ujung Negoro dan Karanggeneng.

Beberapa perahu berisi beragam sesajian. Ada nasi, ikan, jajanan pasar, telur, sayur sampai daging kambing. Perahu berkumpul di tengah laut. Semua berdoa dipimpin seorang tokoh agama. Setelah itu, satu per satu sajian diturunkan ke laut. Perahu dan warga kembali ke daratan dan melanjutkan pesta laut.

Abdul Hakim, warga Roban Timur mengatakan, sedakah laut ini budaya turunan sejak nenek moyang. Tidak hanya di Roban Timur, kebanyakan nelayan punya tradisi sama dengan niatan melestarikan budaya dan tradisi. Ia juga wujud syukur atas karunia kenikmatan kelestarian laut. “Hingga kini laut Roban juga tempat nelayan lain. Mulai Rembang, Tuban, Jepara, Kendal, Pekalongan bahkan Jakarta,” katanya.

Laut Roban menghasilkan ikan bagus hingga nelayan berusaha menjaga dari kerusakan, seperti ancaman dari pembangunan PLTU batubara. PLTU dengan kapasitas 2.000 megawatt bakal dibangun di Batang. Peletakan batu pertama sudah dilakukan Presiden Joko Widodo, beberapa bulan lalu.

Nelayan menolak. Alasan mereka menolak, katanya, karena sudah survei langsung di beberapa daerah, seperti warga sekitar PLTU Jepara, PLTU Cilacap, PLTU Cirebon dan PLTU Paiton. Dari semua keterangan nelayan, kami melihat dan mendengarkan langsung, kalau PLTU berdampak buruk pada nelayan dan laut. Kala ada PLTU, katanya, laut terganggu limbah buangan batubara dan polusi di perkampungan warga.

“Kami tidak ingin merasakan nasib bersama. Kami ingin menjaga laut lestari, bukankah Nawacita Presiden Jokowi jaya di laut? Kenapa ingin merusak laut?” tanya Hakim.

Hakim kecewa Presiden, meresmikan peletakan batu pertama pembangunan PLTU Batang baru-baru ini. Selama ini, katanya, nelayan hidup nyaman. Hasil tangkapan setiap hari mulai Rp400.000-Rp1 juta. “Itu sudah bersih.” Sejak ada PLTU, antarwarga pro dan kontra konflik. Bersyukur di Roban Timur, tidak ada.

Duminah, petani Desa Ponowareng datang ke syukuran laut. Dia bersama warga kampung lain juga menolak PLTU. Sawah miliknya sekitar satu hektar lebih dan warisan orangtua. Dia tak akan pernah menjual. “Sawah kami setiap tahun tiga kali panen, dengan hasil bisa mencapai enam ton lebih setiap panen. Di pinggir sawah juga ditanami telo (ubi kayu), kacang dan cabai. Mau ditawari harga berapun saya tidak akan jual.”

Cayadi warga Karanggeneng mengatakan, petani menggantungkan hidup dari lahan pertanian, dari menghidupi keluarga, membiayai sekolah anak-anak dan memenuhi keperluan lain. “Kami menolak keras pembangunan PLTU batubara Batang karena lahan pertanian sangat penting.” (Mongabay.co.id)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *