oleh

Kala Krisis Air Mengintai Sulawesi Selatan

Kala gunung-gunung ‘penjaga pasokan air’ merana, air tanah terkuras, dan terjadi intrusi air laut, maka beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, terancam mengalami krisis air.

Kami mambangun tenda di antara Pos II dan III Gunung Bawakaraeng. Dua meter di hadapan kami, sungai kecil mengering. Tak berselang lama, enam pendaki lain menghampiri kami. Mereka terlihat kelelahan dan kehabisan air. Kami berbagi air. Pos tiga tinggal beberapa ratus meter, tetapi jalur menanjak. Rombongan pendaki itu tak menyangka, sungai kecil di dekat tenda kami kering. “Beberapa bulan lalu, masih ada air di sungai ini,” kata Opik, rombongan pendaki.

Sungai Talo di Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar. Nampak, vegetasi di setiap sisi sungai adalah tumbuhan mangrove yang menandakan airnya payau. Foto: Mongabay.co.id
Sungai Talo di Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar. Nampak, vegetasi di setiap sisi sungai adalah tumbuhan mangrove yang menandakan airnya payau. Foto: Mongabay.co.id

Biasa, air selalu tersedia di Pos I, antara Pos II ke III, Pos III, Pos V, dan Pos VIII. Kemarau panjang kali ini, Pos III, kering kerontang. Rekan kami, Akbar harus menuju Pos I mengambil air ke galon kecil dan botol-botol mineral. “Kita harus berhemat. Nanti isi air lagi di Pos V. Lalu bawa naik ke Pos VII,” kata Akbar.

Saat pulang, kami melewati jalur Ramma menuju Lembanna, Akbar tak kalah kaget. Tiga sungai besar mengering. “Dulu, kalau bawa carrier besar terus menyeberang di sungai ini, na bawa ki arus dek. Deras sekali,” katanya.

***

Maret 2014, sisi jalur Pos VIII Gunung Bawakaraeng, terjadi runtuhan dinding tebing. Membawa sekitar 250 juta meter kubik material, mengalir menuju hulu Sungai Jeneberang dan mengendapkan di sepanjang badan sungai.

Di Lengkese, desa kecil di kaki Gunung Bawakaraeng, material mengakibatkan kerugian besar. Tercatat, runtuhan menewaskan 33 orang, melenyapkan 10 rumah, menghancurkan satu sekolah, menimbun ratusan hektar sawah, dan ribuan orang mengungsi.

Dari jalur Lembah Ramma, saya mencoba mendekati runtuhan itu, membuktikan hipotesa beberapa penelitian, jika potensi runtuhan masih ada. Siang hari, ketika puncak Gunung Lompobattang-yang bersisihan dengan Bawakaraeng- kebakaran, dinding runtuhan itu terlihat seperti pasir. Di bawahnya terdapat hulu sungai Sungai Jeneberang. Dari jarak sekitar 300 meter, badan sungai hanya menampakkan tumpukan batu, bukan air.

Beberapa saat, longsoran kecil terjadi di tempat runtuhan itu. Saya terperangah. Debu terlihat melayang, menyatu dengan asap dari Lompobattang. “Potensi runtuhan masih ada 113 juta meter kubik,” kata Syamsul Arifin Lias, peneliti Hidrologi dan Pengawetan Air, jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.

Runtuhnya dinding Bawakaraeng, menimbun hulu badan sungai hingga kedalaman 60 meter.”Kita tak tahu, kapan runtuhan susulan terjadi. Potensi di depan mata,” kata Syam, sapaan akrab Syamsul.

Menapaki jalur Bawakaraeng, seperti memasuki pintu spiritual masyarakat sekitar gunung dan Makassar. Gunung yang dianggap suci ini, tak boleh dikotori, sekalipun dengan pikiran. Masa lalu, para pendaki atau peziarah harus membuka semua alas kaki kala naik gunung ini. “Secara logis itu masuk akal. Jalur pendakian pasti terjaga dan pendaki yang menggunakan sepatu jejak tak akan mengikis tanah,” kata Nevi James Tonggiro, pecinta alam yang mengunjungi Bawakaraeng sejak 1985.

Lambat laun, kearifan seperti itu ditinggalkan. Jalur di sepanjang pendakaian terlihat bercabang. Jalur tapakpun, makin lebar dan membuat ceruk (gully). “Jika musim hujan, air berlari makin cepat, membawa lapisan-lapisan tanah. Erosi makin cepat,” katanya.

Ini diamati Syam pada 2002. Bahkan pembukaan area camp baru dan menebang beberapa pohon, mempercepat proses abrasi itu. Tanah menjadi padat, membuat air hujan tidak terserap dengan baik.

Di Pos V, kami memandang jalur pendakaian menuju Pos VI yang penuh bebatuan. Tanah tak terlihat. Kebakaran beberapa tahun lalu membuat penanjakan bertambah sulit. “Bayangkan kalau hujan, air jalur ini pasti deras seperti air terjun,” kata Akbar

Krisis air

Di Lembah Ramma, Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang seperti mengurung. Membentuk beberapa lembah cantik dan telaga sejuk. Dua gugusan pegunungan yang menyatu inilah, tangki raksasa penampung dan penyuplai air untuk Kabupaten Gowa, Sinjai, Takalar dan Makassar. “Jika bagian hulu tak terjaga baik, saya memperkirakan lima tahun mendatang, di Makassar terjadi krisis air bersih sangat fatal,” kata Syam.

Analisis ini diperoleh Syam, melalui penelitian tahun 2002 dan 2009. Menurut dia, material runtuhan tebing Bawakaraeng yang terbawa melalui anak sungai menuju Jeneberang, membuat penumpukan di DAM Bili-bili–saat ini sudah mencapai ambang batas maksimal.

Hulu sungai Jeneberang yang nampak tertutup material sedalam 60 meter. Dinding sungai rapuh. Foto: Mongabay.co.id
Hulu sungai Jeneberang yang nampak tertutup material sedalam 60 meter. Dinding sungai rapuh. Foto: Mongabay.co.id

DAM Bili-bili resmi beroperasi 1998. DAM ini memasok kebutuhan air baku hingga 3.300 meter kubik per detik dan menghasilkan aliran listrik tenaga air hingga 20,1 mega watt.

Dalam rancang awal dan analisis pembangunan DAM Bili-bili usia pengerukan dan peremajaan mencapai 50 tahun. Untuk hitungan kapasitas sedimentasi mencapai 1.500 meter kubik per hektar per tahun. Namun, perkiraan itu melenceng jauh, tahun 2009, ambang batas sedimen (get storage sediment) mencapai 2.000 meter kubik per hektar per tahun. “Artinya apa? Ya, Bili-bili harus dikeruk utuh. Karena daya tampung sudah mencapai ambang batas.”

Sedimen itu, kata Syam, telah mencapai bibir intake yang mengalirkan air ke PDAM Makassar. “Itu kami dapati tahun 2009. Jadi jika potensi runtuhan kedua terjadi, bisa deadlock. Artinya, pasokan air ke PDAM mati total.” “Bili-bili akan menjadi daratan,” kata Syam.

Air tanah

Muhammad Fadli, menghuni sebuah rumah di Kelurahan Borong, Makassar. Jarak dari pesisir pantai sekitar 10 km. Air tanah dari sumur bor asin. Untuk memasak sangat tak layak. “Kalau pakai masak beras, nasi jadi kuning dan bau,” katanya.

Tak hanya itu, saat menggunakan keran air berbahan besi atau aluminium sangat mudah keropos. “Jadi mau masak pakai air galon, sikat gigi dan lain-lain. Aliran PDAM tidak sampai di kompleks ini, padahal warga kompleks sudah beberapa kali melakukan pengajuan, tapi tak ada jawaban.”

Fadli mengizinkan saya mencoba air keran dari sumur bor itu. Warna air terlihat kuning, dan benar sangat asin. Hal sama terjadi di Jalan Batua Raya dan sebagian besar Daya.

Di Jalan Andi Pangerang Pettarani, saya menemui Anggiat Sinaga, Direktur Utama Hotel Clarion juga Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Dia pria hangat dan senang berbincang. Clarion memiliki sekitar 500-an kamar dengan retribusi air dari PDAM sebanyak Rp400-Rp500 juta per bulan.

Anggiat menggunakan air PDAM, karena air tanah di wilayah Pettarani, tempat hotel berdiri cukup payau. “Kami sudah membeli alat penjernih air, namun setelah dibor di kedalaman 100 hingga 150 meter, air payau dan sangat sedikit.”

Di Makassar, hotel bintang tiga dan empat ada 89, dengan kamar hingga 2015 mencapai 12.500. “Dengan kamar itu, untuk stabil setiap hari harus diisi minimal 9.000 kamar atau sekitar 20.000 orang,” kata Anggiat.

DI beberapa hotel di pesisir Pantai Losari, juga grup Hotel Clarion, kebutuhan air dari air tanah. “Di Quality, kami ngebor hanya sekitar 50 meter. Air bagus.”

Di Makassar, katanya, belum ada batasan maupun aturan penggunaan air tanah. “Jika saya pengusaha hotel, saya akan memaksimalkan penggunaan air tanah. Seperti saat ini, di beberapa hotel dikombinasikan dengan PDAM. Itu juga akan mengurangi biaya produksi,” katanya.

Syam mengatakan, penggunaan berlebihan air tanah, bisa membuat jaringan air bawah tanah (aquifer) terganggu. “Jika seseorang membuat sumur atau mengebor, dan sekitar ada sumur lebih dangkal, dan jaringan aquifer-nya sama, air dari sumur yang dangkal akan tersedot.”

Tanah yang membentuk sebuah jaringan air, katanya, ibarat spon. Air saling berhubungan selalu mengisi tempat kosong. Sumber dari wilayah dataran tinggi, seperti kawasan karst di Maros–Pangkep ataupun Pegunungan Bawakaraeng–Lompobattang di Gowa.

Secara topografi, Makassar adalah wilayah dataran rendah. Struktur tanah dominan di bentuk dari endapan sungai dan pantai atau rawa. Endapan ini dikenal sebagai tanah muda. Struktur beragam, tidak padat seperti endapan vulkanik terbentuk alamiah. Dalam proses alamiah, pembentukan setiap setengah sentimeter tanah memerlukan waktu sekitar 100 tahun.

Struktur tanah Makassar, biasa bercampur pasir, mudah meloloskan air alias tidak kuat menyimpan air. Untuk menahan air, katanya, salah satu dengan hutan kota dan mempertahankan daerah resapan. “Nah, di Makassar, kita tidak mendapatkan itu. Karebosi, misal dijadikan mal, beberapa daerah resapan jadi perumahaan.”

Pengambilan air tanah berlebih, katanya, mengakibatkan antara lain penurunan muka air tanah. Di Makassar, dalam 10 tahun terakhir, turun antara dua sampai tiga meter. Makin jauh muka air tanah, saling saling terkait melalui jaringan, dan akan menurunkan kualitas air. “Jadi jika ada satu titik tercemar, dalam satu jaringan itu, ikut pula tercemar,” katanya. Permukaan tanahpun berangsur turun.

Secara ekologi, air tanah tidak muncul sendiri, tetapi dihasilkan dari kondisi alam sekitar kawasan. “Jika saat ini, kondisi Gunung Bawakaraeng dan Lompobattang, tidak terjaga, pasokan air ke tanah akan berkurang. Jadi tidak imbang antara pengisian dan pemakaian. Spon jaringan bawah tanah pada periode tertentu bisa kosong dan mengakibatkan tanah runtuh,” ucap Syam.

Intrusi air laut

Pada 1997, Syam penelitian intrusi air laut ke daratan di Makassar, dengan pengamatan di Sungai Pampang dan Tallo. Hasilnya, dari garis pantai intrusi air laut mencapai sembilan km.

Penelitian lanjutan, pada 2012 di Tanjung Bunga. Dia mendapati, sumur-sumur warga dengan jarak dari garis pantai dua km, memiliki kadar garam hingga 1.500 mg/liter. Sedang kadar garam dalam batas ambang konsumsi layak kesehatan 600 mg/liter.

“Jadi air laut merembes dari bawah, karena lebih berat dari air tawar. Di Sungai Tallo, bagian tentu tawar, tapi bagian dasar asin atau payau. Inilah yang merembes ke tanah dan mengalir ke sumur-sumur warga.”

Bagaimana menghambat intrusi air laut? “Kawasan hulu harus terjaga baik. Sepanjang badan sungai baik Jeneberang, Pampang, Tallo, dan semua anak sungai yang mengalirkan air ke Makassar harus kembali dihijaukan,” kata Syam.

Gunung Bawakaraeng dan Lompobattang adalah komponen inti bagi lingkungan Makassar. Kondisi tejaga akan menciptakan hujan dari proses kondensasi dari dataran tinggi ke dataran rendah. “Kalau wiayah ini gundul dan tidak diperhatikan, tak akan ada hujan yang memberikan suplai air pada tanah di Makassar.” Akibatnya, di kawasan wisata Tanjung Bunga, Tanjung Bayang, dan Tanjung Merdeka, yang menjadi bagian hilir Sungai Jeneberang dengan suplai air kecil, menyebabkan beberapa bagian pantai terdampak abrasi. Dinding dan tebing pantai berceruk karena desakan air laut dari bawah lebih kuat.

Tak heran, pada jarak tertentu dari bibir pantai, arus air begitu kuat. Hingga beberapa peristiwa tenggelamnya pengunjung yang mengakibatkan kematian di kawasan tersebut, karena terjepit di dinding tebing.

Selain itu, katanya, pembangunan DAM Bili-bili ikut menjadikan kondisi Sungai Jeneberang makin buruk. Suplai air seharusnya ditampung di bendungan dan meluap di bibir spillway, tak pernah terjadi. Padahal, untuk tetap menjaga aliran sungai, perlu maintenance flow, dengan mengalirkan sekitar 20% debit normal ke badan sungai. “Yang terjadi, air mengalir ke Jeneberang, hanya dari rembesan bendungan bagian bawah. Itu sangat kurang.” “Dengan kondisi seperti ini bagaimana mau menahan air laut?”

Seharusnya, dengan air tanah terjaga baik akan menahan air laut masuk saat pasang. Sebaliknya, setiap penurunan air tawar, berpotensi menaikkan air laut. (Mongabay.co.id)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *